Gue sering banget dapat DM atau pertanyaan di kolom komentar dari sesama ibu rumah tangga. Ternyata, pertanyaannya itu-itu aja. Polanya mirip. Jadi daripada jawab satu-satu, gue rangkum di sini. Mungkin kamu juga pernah nanya hal yang sama, tapi belum nemu jawaban yang bikin hati tenang.
Sebelum lanjut, gue bukan psikolog anak atau konselor keluarga. Gue cuma ibu rumah tangga yang udah lewatin lima belas tahun ngurus rumah, dua anak, dan suami yang kadang bikin kesal. Jadi tulisan ini murni dari pengalaman, bukan teori buku teks.
Untuk topik 18TOTO - Cara Verifikasi Akun Pragmatic Play Terbaru Agar Transaksi Lancar Tanpa Kendala, baca ulasan lengkapnya di sini.
Baca juga: Anak Ngambek Bukan Berarti Kamu Gagal Jadi Orang Tua
"Kenapa anak lebih nurut sama ayahnya daripada gue?"
Ini pertanyaan nomor satu yang paling sering masuk. Dan gue paham banget kenapa ini bikin hati perih. Kamu yang mandiin, nyuapin, nemenin belajar, tapi begitu ayahnya pulang, anak langsung manis dan nurut. Sakit kan?
Tapi coba lihat dari sisi lain. Anak nurut sama ayah bukan berarti dia nggak sayang kamu. Justru sering kali sebaliknya: anak merasa aman sama kamu, jadi dia berani ngambek, berani nangis, berani nunjukin sisi jeleknya. Sama orang yang dia percaya, dia nggak perlu jaga image.
Gue dulu sering nangis diam-diam karena hal ini. Sampai suatu hari suami gue bilang, "Dia nurut sama gue karena gue cuma dua jam di rumah. Kamu yang 24 jam. Wajar dia bosan sama kamu."
Nah, kalau kamu lagi di fase ini, coba beberapa hal:
- Jangan bandingkan porsi waktu kamu dengan ayahnya. Beda peran, beda dinamika.
- Cari waktu khusus berdua anak, walau cuma 15 menit. Tanpa HP, tanpa gangguan.
- Kalau anak ngambek sama kamu, coba tanya, "Kamu lagi kesal ya?" bukan langsung menasihati.
- Libatkan ayah dalam aturan rumah. Jangan biarkan dia jadi "polisi" sementara kamu "penjaga" yang selalu dimarahin anak.
Yang penting, jangan sampai kamu merasa gagal cuma karena anak lebih manis ke ayahnya. Itu bukan ukuran keberhasilan kamu sebagai ibu.
"Gimana caranya nggak teriak-teriak ke anak saat capek?"
Jujur ya, gue juga masih belajar soal ini. Dan gue nggak akan bilang "cukup sabar" karena itu klise dan nggak membantu.
Yang ngebantu gue justru hal-hal praktis. Pertama, gue sadar kalau teriakan gue biasanya keluar saat gue lapar, kurang tidur, atau lagi banyak pikiran. Jadi gue mulai kenali pemicunya.
Kedua, gue bikin aturan pribadi: kalau dada udah panas, gue keluar kamar dulu. Nggak perlu lama, 2-3 menit. Cuci muka, minum air, tarik napas. Anak nggak akan rusak karena nunggu tiga menit.
Marah itu wajar. Yang bikin masalah adalah marah yang keluar tanpa kita sadari.
Ketiga, gue minta maaf kalau memang gue salah teriak. Ini penting. Bukan buat bikin gue merasa lebih baik, tapi buat ngajarin anak bahwa orang dewasa juga bisa salah dan minta maaf.
Kalau kamu masih sering teriak, jangan langsung merasa jadi ibu yang buruk. Perubahan itu proses. Yang penting kamu sadar dan mau memperbaiki.
"Suami nggak bantu urusan rumah, gimana ngomongnya?"
Ini pertanyaan sensitif. Banyak ibu rumah tangga yang nggak berani ngomong karena takut dianggap "nggak bersyukur" atau "bikin ribut".
Pengalaman gue, cara ngomongnya yang salah bikin masalah makin besar. Kalau kita mulai dengan "Kamu tuh nggak pernah bantu!", yang keluar dari suami biasanya defensif, bukan solusi.
Coba ganti pendekatannya. Misalnya:
Pakai "gue" bukan "kamu"
Contoh kalimatnya: "Gue capek banget minggu ini. Bisa nggak kamu ambil satu tugas, misalnya nemenin anak mandi?" Ini lebih konkret dan nggak nyerang.
Minta hal spesifik, bukan keluhan umum
Suami sering nggak paham apa yang harus dilakukan karena kita cuma bilang "bantuin dong". Bantuin apa? Kapan? Berapa lama? Kasih detail.
Gue pernah coba cara ini dan hasilnya lumayan. Suami gue sekarang rutin cuci piring malam. Bukan karena dia tiba-tiba sadar, tapi karena gue minta spesifik dan konsisten.
Kalau udah dicoba berkali-kali tetap nggak jalan, mungkin perlu ngobrol lebih serius. Bukan saat marah, tapi saat suasana lagi tenang. Kadang suami butuh dengar dari orang lain juga, bukan cuma dari kita.
"Anak susah diatur, apa pola asuh gue yang salah?"
Gue pengen kamu tarik napas dulu sebelum baca bagian ini. Karena jawabannya mungkin bikin lega.
Anak susah diatur itu normal. Sangat normal. Apalagi di usia 2-5 tahun dan masa remaja awal. Kalau anak selalu nurut dan nggak pernah protes, justru itu yang perlu dipertanyakan.
Tapi bukan berarti kita diam aja. Ada beberapa hal yang bisa dicek:
- Konsistensi aturan. Kalau hari ini boleh, besok nggak boleh, anak jadi bingung dan nguji terus.
- Kesepakatan orang tua. Anak pintar cari celah. Kalau ayah bilang boleh dan ibu bilang nggak, dia akan main ke yang longgar.
- Kualitas tidur anak. Anak kurang tidur itu beda banget perilakunya. Sering diabaikan, padahal pengaruhnya besar.
- Perhatian yang cukup. Kadang anak bikin ulah karena cuma pengen diperhatikan, walau perhatiannya berupa marahan.
Gue pernah di fase ini sama anak kedua. Rasanya kayak ngomong sama dinding. Ternyata masalahnya sederhana: dia kurang tidur siang dan gue terlalu banyak main HP di dekatnya. Setelah dibenahi, lumayan berubah.
Untuk topik 18TOTO - Cara Verifikasi Akun Pragmatic Play Terbaru Agar Transaksi Lancar Tanpa Kendala, baca ulasan lengkapnya di sini.
Pilih tantangan yang memancing antusiasme dan nikmati momennya!
Jadi sebelum menyalahkan diri sendiri, cek dulu hal-hal kecil yang mungkin kelewat.
Yang Perlu Kamu Ingat
Jadi ibu rumah tangga itu pekerjaan yang nggak ada liburnya, nggak ada gajinya, dan sering nggak dianggap. Wajar kalau kamu capek, bingung, dan kadang pengen nangis di kamar mandi.
Informasi selengkapnya bisa dibaca di smoke up japan.
Tapi pertanyaan-pertanyaan yang kamu tanyakan itu justru tanda kamu peduli. Ibu yang nggak peduli nggak akan repot-repot cari jawaban.
Nggak ada pola asuh yang sempurna. Yang ada cuma orang tua yang mau belajar dan memperbaiki diri sedikit-sedikit. Kalau hari ini kamu gagal, besok masih ada kesempatan. Anak-anak kita nggak butuh ibu yang sempurna, mereka butuh ibu yang hadir dan mau berusaha.
Kalau kamu lagi di fase berat, peluk diri kamu sendiri. Kamu udah melakukan lebih banyak dari yang kamu sadari.